Lompat ke konten
Minggu, 6 September 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Arab Saudi

Forum Dialog Keamanan dan Sejarah 2026 di Riyadh Dinilai Penting Hadapi Tantangan Masa Depan

Sekjen Dewan Kerja Sama Teluk Jassim Mohammed Al-Budaiwi menegaskan Forum Dialog Keamanan dan Sejarah sangat penting untuk memperkuat keahlian keamanan menghadapi tantangan masa depan.

AJEL Indonesia54 mnt lalu · 2 mnt baca
Forum Dialog Keamanan dan Sejarah 2026 di Riyadh

Poin Utama

AI

Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama untuk Negara-Negara Teluk Arab (GCC), Jassim Mohammed Al-Budaiwi, menegaskan bahwa Forum Dialog Keamanan dan Sejarah memiliki arti penting dalam memperkuat keahlian keamanan guna menghadapi tantangan keamanan di masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menghadiri Forum Dialog Keamanan dan Sejarah bertajuk "Sejarah dan Masa Depan Kita... Keamanan dan Kemakmuran" yang digelar di Riyadh di bawah naungan Menteri Dalam Negeri Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Nayef. Acara ini mempertemukan para pemimpin, pejabat, pakar, dan akademisi untuk menelaah pengalaman sejarah serta memproyeksikan perubahan masa depan di bidang keamanan dan pembangunan, dengan lebih dari 160 pembicara dari dalam Kerajaan dan luar negeri.

Pada awal sambutannya, Al-Budaiwi menyampaikan apresiasi kepada Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Nayef dan seluruh jajaran Kementerian Dalam Negeri atas upaya besar mereka dalam menyelenggarakan konferensi ini. Ia menjelaskan bahwa isu keamanan telah menjadi perhatian sejak awal berdirinya Dewan Kerja Sama Teluk, dan kini telah mencapai tingkat integrasi serta kesiapsiagaan bersama yang maju. Ia menegaskan bahwa kekuatan sistem keamanan Teluk bersumber dari kekuatan negara-negara anggotanya dan kemampuan mereka untuk bekerja sama menghadapi tantangan bersama.

Lebih lanjut, Sekjen GCC menyoroti bahwa perkembangan kejahatan dan ancaman lintas batas menuntut perubahan pendekatan, dari sekadar menangani kejahatan setelah terjadi menjadi upaya pencegahan, pembongkaran jaringan, dan pemutusan sumber daya mereka. Ia juga memaparkan kemajuan kerja sama Teluk dalam memerangi narkotika dan pencucian uang, serta penyusunan proyek strategi Teluk untuk memberantas kejahatan siber dan kejahatan berbasis kecerdasan buatan.

Al-Budaiwi juga menekankan bahwa kecerdasan buatan dan teknologi modern menawarkan peluang besar untuk pengembangan kerja keamanan, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru akibat penyalahgunaannya dalam bentuk kejahatan yang semakin canggih. Negara-negara GCC, menurutnya, terus membangun kapasitas agar mampu mengantisipasi dan menghadapi kejahatan masa depan dengan perangkat masa depan, sembari tetap menempatkan perlindungan manusia, keluarga, dan masyarakat sebagai inti kerja keamanan. Ia juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan operasional bersama, serta peran latihan keamanan gabungan seperti "Keamanan Teluk Arab" sebagai wujud nyata integrasi antar lembaga keamanan negara anggota, sekaligus meningkatkan koordinasi, respons, dan penanganan skenario keamanan yang dinamis.

Al-Budaiwi menambahkan, pengalaman sukses di negara-negara GCC merupakan aset bersama yang dapat dibagi dan dikembangkan. Ia menegaskan bahwa hubungan antara keamanan dan pembangunan kini semakin erat di tengah transformasi besar yang dialami negara-negara GCC. Keamanan, menurutnya, tidak berada di pinggir pembangunan, melainkan melindungi jalannya dan menjaga hasil-hasilnya. Teknologi kini memberikan kemampuan lebih besar untuk mengantisipasi bahaya dan melindungi manusia.

Komentar (0)