Lompat ke konten
Senin, 17 Agustus 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Arab Saudi

Pengamat: Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah Bersifat Defensif

Pengamat politik Bashar Jarrar menegaskan Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah bersifat defensif, setara Pasal 5 NATO, dan bukan perjanjian ofensif.

AJEL Indonesia1 jam lalu · 1 mnt baca
Ilustrasi penandatanganan perjanjian pertahanan Mekkah

Poin Utama

AI

Pengamat politik Bashar Jarrar menyatakan bahwa Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah setara dengan Pasal 5 Piagam NATO, yaitu perjanjian pertahanan yang bersifat defensif, bukan ofensif.

Dalam wawancara dengan Al Arabiya, ia menambahkan bahwa sambutan positif Amerika Serikat terhadap perjanjian ini didasarkan pada sejarah hubungan dan delapan dekade kemitraan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat, serta penekanan pada pentingnya Riyadh dan hubungan pertahanan yang istimewa.

Bashar Jarrar juga menjelaskan bahwa perjanjian ini merupakan respons defensif tanpa unsur agresi, yang telah dibahas selama dua tahun terakhir akibat berbagai ancaman terhadap negara-negara di kawasan. Perjanjian ini menitikberatkan pada terciptanya Timur Tengah baru dan hubungan baru dengan para sekutu.

Sebelumnya, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan telah mengumumkan penandatanganan perjanjian pertahanan bersama yang memperkuat kemampuan penangkalan kolektif jika salah satu negara tersebut mengalami serangan. Perjanjian ini bertujuan meningkatkan penangkalan bersama terhadap segala tindakan agresi, dan menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara dianggap sebagai serangan terhadap semuanya. Selain itu, perjanjian ini juga mencakup penguatan seluruh aspek kerja sama pertahanan di antara ketiga negara.

Komentar (0)