Lompat ke konten
Minggu, 4 Oktober 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Arab Saudi

Pejabat Kementerian Kesehatan: Surveilans Epidemiologi Jadi Garis Pertahanan Utama

Pejabat Kementerian Kesehatan menegaskan surveilans epidemiologi adalah garis pertahanan pertama melawan penyakit, serta pentingnya pencegahan dan antisipasi.

AJEL Indonesia54 mnt lalu · 3 mnt baca
Konferensi kesehatan masyarakat di Arab Saudi

Poin Utama

AI

Pejabat Kementerian Kesehatan bidang kesehatan populasi, Dr. Abdullah Asiri, menegaskan bahwa sistem surveilans epidemiologi yang mampu beroperasi sepanjang waktu merupakan garis pertahanan utama dalam menghadapi penyakit menular. Ia menekankan bahwa peran terpenting kesehatan masyarakat dimulai sebelum terjadi wabah, melalui upaya pencegahan, antisipasi, dan pemantauan perubahan pola epidemiologi atau kemunculan penyakit baru.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Saudi untuk Promosi dan Edukasi Kesehatan di Universitas King Saud, dengan tema "Kesehatan Tanpa Batas", yang diikuti sejumlah pakar dan ahli di bidang kesehatan masyarakat serta kebijakan kesehatan.

Asiri menjelaskan bahwa kesehatan masyarakat merupakan pilar utama ketahanan kesehatan. Program imunisasi dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan menjadi komponen penting dalam sistem pencegahan, selain komunikasi saat krisis dan penyampaian informasi yang seimbang kepada masyarakat guna meningkatkan kepatuhan terhadap protokol pencegahan dan mengurangi kepanikan.

Asiri juga memaparkan pengalaman Arab Saudi dalam menghadapi Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) sejak kemunculannya pada 2012, yang mendorong pengembangan sistem surveilans, skrining, dan pengendalian infeksi. Ia menegaskan bahwa penyakit menular tidak mengenal batas negara, sehingga penanganannya memerlukan deteksi dini, isolasi kasus, pelacakan kontak, serta penilaian risiko paparan.

Tantangan Kesehatan Masyarakat di Masa Depan

Asiri menyoroti bahwa salah satu tantangan utama ke depan adalah konsep "One Health" yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, serta isu resistensi antimikroba. Ia menegaskan bahwa penanganan tantangan ini membutuhkan kerja sama terintegrasi di tingkat lokal, regional, dan internasional.

Sementara itu, Dr. Lamia Mahmoud, penasihat regional untuk penyakit tidak menular di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyatakan bahwa WHO memperbarui pedoman terkait diabetes, hipertensi, dan kanker berdasarkan bukti ilmiah dan riset, serta membantu negara-negara dalam pengembangan kebijakan kesehatan dan pelatihan tenaga kesehatan.

Lamia menjelaskan bahwa pencegahan penyakit tidak menular memerlukan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesejahteraan sosial, dan perdagangan, bukan hanya kementerian kesehatan.

Sinergi Antar Sektor untuk Penguatan Kesehatan

Dalam diskusi mengenai kebijakan kesehatan lintas sektor, Dr. Fadia binti Saleh Al-Hajran, Direktur Jenderal Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Nasional di Dewan Kesehatan Saudi, menegaskan bahwa peningkatan kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama. Ia menyoroti pentingnya sinergi dalam perumusan dan evaluasi kebijakan kesehatan.

Sementara itu, Dr. Ibrahim Al-Jefali, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Pemberdayaan dan Kepatuhan di Jaminan Kesehatan, mengungkapkan bahwa jumlah penerima manfaat asuransi kesehatan di Arab Saudi telah mencapai sekitar 15 juta orang, ditambah jutaan jamaah haji, umrah, dan wisatawan. Ia menjelaskan bahwa layanan pencegahan merupakan bagian utama dari manfaat asuransi, dengan penekanan pada penguatan peran pusat layanan kesehatan primer dan pergeseran ke arah pencegahan untuk mengurangi kebutuhan rawat inap di rumah sakit.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Naif bin Abdullah Al-Amri, konsultan kedokteran keluarga dan pendidikan medis sekaligus Direktur Medis Pusat Al-Narjis di Grup Medis Dr. Sulaiman Al-Habib, menegaskan bahwa sektor swasta adalah mitra dalam transformasi kesehatan. Konsep "kesehatan dalam semua kebijakan" mencakup sektor pendidikan, pangan, perencanaan kota, dan perumahan.

Al-Amri juga mencatat bahwa rata-rata usia harapan hidup di Arab Saudi meningkat dari 74 tahun menjadi 76,9 tahun, yang menurutnya merupakan hasil kerja sistem yang terintegrasi untuk meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas, bukan sekadar menambah usia.

Komentar (0)