Lompat ke konten
Sabtu, 12 September 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Arab Saudi

Peneliti: Perusahaan Produksi Rugi Daya Saing Jika Pengetahuan Hilang Usai Proyek

Dr. Riyadh bin Nasser Al-Furaiji menegaskan pentingnya perusahaan produksi media menjaga pengetahuan yang dihasilkan dari setiap proyek sebagai aset institusi.

AJEL Indonesia1 jam lalu · 3 mnt baca
Dr. Riyadh bin Nasser Al-Furaiji berbicara soal produksi media

Poin Utama

AI

Peneliti dan pakar media serta komunikasi, Dr. Riyadh bin Nasser Al-Furaiji, menegaskan bahwa perusahaan produksi media memiliki peluang penting untuk mengubah setiap proyek yang dijalankan menjadi 'aset pengetahuan' yang tetap berada di dalam institusi. Ia menekankan bahwa selesainya sebuah proyek seharusnya menjadi awal dari fase baru pembelajaran dan pengembangan, bukan akhir dari pengalaman yang telah diperoleh selama pelaksanaan proyek.

Al-Furaiji mengatakan, "Nilai sebuah proyek media tidak hanya terletak pada produk yang keluar dari perusahaan, tetapi juga pada pengetahuan yang tersisa di dalamnya setelah proyek selesai. Setiap proyek menghasilkan pengetahuan tentang audiens, metode kerja, talenta, biaya, ide, keputusan yang berhasil, dan keputusan lain yang seharusnya bisa diambil dengan lebih baik."

Ia menjelaskan bahwa karakter industri produksi media yang berbasis proyek membuat pelestarian pengetahuan menjadi semakin penting. Tim kerja yang berubah-ubah, beragamnya klien dan mitra, serta perkembangan alat dan teknologi yang cepat dapat menyebabkan perusahaan harus memulai dari awal pada setiap proyek baru jika tidak ada mekanisme untuk menyimpan dan mentransfer pengalaman antar proyek.

Ia menambahkan, "Dua perusahaan bisa saja menyelesaikan jumlah proyek yang sama, namun perbedaan nyata akan terlihat pada perusahaan yang setelah proyek kesepuluh menjadi lebih berpengetahuan, lebih mampu, dan lebih matang dibanding saat menjalankan proyek pertamanya."

Menurut Al-Furaiji, perusahaan produksi dapat membangun akumulasi pengetahuan ini melalui praktik sederhana dan terorganisir setelah setiap proyek, dengan menjawab pertanyaan seperti: apa yang telah kita pelajari? Apa tanggapan audiens? Apa yang berhasil? Di mana kita mengalami hambatan? Pengetahuan apa yang didapat tim? Dan apa yang sebaiknya dilakukan berbeda pada proyek berikutnya?

Ia menambahkan bahwa evaluasi ini merupakan penerapan dari penelitiannya tentang "perencanaan strategis konten audio-visual dan kaitannya dengan daya saing perusahaan produksi media di Arab Saudi", yang melibatkan pimpinan dari 50 perusahaan produksi media Saudi serta 400 mitra perusahaan produksi.

Penelitian tersebut mengungkapkan salah satu tantangan manajerial yang dihadapi sebagian perusahaan produksi adalah "bekerja dengan pola pikir menyelesaikan tugas dan menutup proyek". Al-Furaiji menilai, perubahan industri saat ini menuntut perusahaan untuk melampaui pola pikir tersebut, dengan mengelola proyek bukan hanya sebagai produk yang selesai saat diserahkan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran institusional.

Ia mengatakan, "Pasar bisa membeli teknologi, merekrut talenta, dan mengembangkan alat produksi; namun pengalaman yang terakumulasi di dalam institusi sulit untuk dibeli atau ditiru. Di sinilah pengetahuan dapat menjadi bagian dari keunggulan kompetitif."

Ia menambahkan, pemanfaatan pengetahuan yang dihasilkan dari proyek tidak selalu memerlukan sistem yang rumit; bisa dimulai dengan mendokumentasikan pelajaran yang didapat, menganalisis respons audiens, menyimpan solusi dan praktik yang berhasil, meninjau keputusan pasca pelaksanaan, serta menyediakan pengetahuan ini bagi tim yang akan mengerjakan proyek berikutnya.

Ia menegaskan bahwa akumulasi pengetahuan semakin penting seiring pesatnya perubahan di industri media, karena kemampuan institusi untuk belajar dari pengalamannya sendiri memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan produk dan merespons perubahan pasar serta audiens.

Al-Furaiji menutup dengan mengatakan, "Setelah setiap proyek media, ada satu pertanyaan yang layak ditambahkan selain 'apa yang telah kita capai?', yaitu: apa yang kini diketahui dan bisa dilakukan perusahaan yang sebelumnya belum diketahui atau belum bisa dilakukan sebelum proyek ini?"

Komentar (0)