Lompat ke konten
Sabtu, 1 Agustus 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Dunia

Irak dan Turki Sepakati Ekspor Minyak 750 Ribu Barel per Hari

Irak dan Turki menandatangani perjanjian sementara selama satu tahun untuk ekspor minyak mentah melalui Pelabuhan Ceyhan, dengan target ekspor 750 ribu barel per hari.

AJEL Indonesia1 jam lalu · 1 mnt baca
Irak dan Turki teken perjanjian ekspor minyak

Poin Utama

AI

Irak dan Turki menandatangani perjanjian sementara selama satu tahun untuk menjaga kelangsungan ekspor minyak mentah melalui Pelabuhan Ceyhan, dengan batas ekspor sebesar 750 ribu barel per hari. Ada pula rencana untuk meningkatkan kapasitas ekspor menjadi 1,5 juta barel per hari dalam satu tahun, menurut Menteri Perminyakan Irak, Bassem Mohammed Khudair.

Khudair menyatakan bahwa perjanjian yang ditandatangani bersama Kementerian Energi Turki dan perusahaan BOTAŞ tersebut menetapkan batas ekspor minyak hingga 750 ribu barel per hari. Ia menegaskan bahwa Irak menargetkan untuk menggandakan jumlah ini menjadi 1,5 juta barel per hari dalam satu tahun.

Menteri Perminyakan juga menjelaskan bahwa kedua pihak tengah melakukan pembicaraan lanjutan terkait investasi dan pengembangan ladang minyak di Irak, serta membahas pembentukan kemitraan strategis antara perusahaan Irak dan Turki di sektor hulu dan hilir.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Perminyakan Irak, Salim Al-Rikabi, menerangkan bahwa delegasi pemerintah yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Bidang Energi sekaligus Menteri Perminyakan, Bassem Mohammed Khudair, telah mengunjungi Turki untuk menandatangani perjanjian sementara ini sebagai langkah awal menuju perjanjian energi yang komprehensif dan jangka panjang.

Ia menambahkan, perjanjian ini bertujuan untuk memastikan kelangsungan ekspor minyak mentah Irak melalui Pelabuhan Ceyhan. Perjanjian ini bersifat tripartit, melibatkan dari pihak Irak perusahaan SOMO dan North Oil, serta dari pihak Turki perusahaan BOTAŞ.

Al-Rikabi menekankan bahwa pencapaian batas ekspor yang ditetapkan bergantung pada membaiknya situasi keamanan di wilayah Kurdistan, kembalinya perusahaan asing, dimulainya kembali produksi di wilayah tersebut, serta pengalihan minyak dari Irak selatan ke utara.

Ia menambahkan, perjanjian ini merupakan tahap transisi sebelum dicapainya kesepakatan jangka panjang yang bertujuan meningkatkan kapasitas ekspor, setelah proyek pembangunan pipa Basra–Haditha–Kirkuk–Ceyhan rampung.


Komentar (0)