Lompat ke konten
Sabtu, 5 September 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Dunia

Studi: Suplemen Melatonin Tingkatkan Risiko Gagal Jantung hingga 90%

Sebuah studi terbaru menemukan penggunaan jangka panjang suplemen melatonin pada penderita insomnia kronis berkaitan dengan peningkatan risiko gagal jantung hingga 90%, serta kenaikan angka rawat inap dan kematian.

AJEL Indonesia1 jam lalu · 1 mnt baca
Ilustrasi botol suplemen melatonin dan pil

Poin Utama

AI

Para peneliti mengungkapkan bahwa penggunaan jangka panjang suplemen melatonin berkaitan dengan peningkatan risiko gagal jantung hingga 90% pada penderita insomnia kronis, serta meningkatnya angka rawat inap dan kematian akibat berbagai sebab.

Studi yang dilaporkan oleh "Science Daily" ini menggunakan data dari jaringan global TriNetX, dan menemukan bahwa dari 130.828 orang dewasa dengan insomnia, sebanyak 65.414 di antaranya menggunakan melatonin selama satu tahun atau lebih. Kedua kelompok dibandingkan berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, penyakit, dan obat-obatan yang dikonsumsi.

Hasil penelitian menunjukkan gagal jantung terjadi pada 4,6% pengguna melatonin, dibandingkan 2,7% pada kelompok yang tidak menggunakan dalam periode lima tahun. Risiko rawat inap akibat gagal jantung juga meningkat sekitar 3,5 kali lipat (19,0% dibanding 6,6%).

Angka kematian akibat sebab apa pun tercatat sebesar 7,8% pada pengguna melatonin, dibandingkan 4,3% pada kelompok lain, sehingga risikonya hampir dua kali lipat lebih tinggi.

Dr. Marie-Pierre St-Onge, peneliti dari Universitas Columbia, menjelaskan bahwa di Amerika Serikat, melatonin digunakan sebagai suplemen makanan dan bukan untuk pengobatan insomnia jangka panjang, sehingga ia mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam mengonsumsinya.

Ia juga menyoroti adanya keterbatasan dalam studi ini, seperti tidak diketahuinya lokasi peserta yang dapat menyebabkan kekeliruan klasifikasi, serta pengaruh tingkat keparahan insomnia dan gangguan psikologis lain terhadap hasil penelitian.

Sementara itu, Dr. Ekenedilichukwu Nnadi, penulis utama studi, menegaskan bahwa temuan ini menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan melatonin. Namun, ia menekankan bahwa studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, serta mendorong perlunya penelitian lebih lanjut mengenai keamanan jantung dari suplemen ini.

Komentar (0)