Lompat ke konten
Minggu, 26 Juli 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Ekonomi

Bloomberg: Tarif Trump Ciptakan Realitas Baru dalam Kebijakan Perdagangan AS

Bloomberg melaporkan bahwa tarif impor yang diberlakukan Donald Trump kini membentuk realitas baru dalam kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

AJEL Indonesia2 jam lalu · 3 mnt baca
Donald Trump di depan bendera Amerika Serikat

Poin Utama

AI

Bloomberg melaporkan bahwa tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meski mendapat banyak kritik di dalam dan luar negeri, kini membentuk realitas baru dalam kebijakan perdagangan AS. Diperkirakan, pemerintahan mendatang pun akan sulit sepenuhnya menghapus tarif tersebut karena dianggap sebagai alat tekanan dan sumber pendapatan bagi kas negara.

Bloomberg menambahkan, Trump yang sejak lama menganut kebijakan proteksionis, menilai tarif impor telah memperkuat ekonomi Amerika Serikat dan menggunakannya sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan mitra dagang. Ia bahkan masih mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap negara-negara sekutu, meski popularitas kebijakan ini terus menurun di tengah kenaikan biaya hidup dan inflasi.

Bloomberg juga menjelaskan, para ahli memperkirakan presiden Amerika Serikat berikutnya, bahkan jika berasal dari Partai Demokrat, kemungkinan hanya akan melakukan penyesuaian pada tarif tersebut demi memperbaiki hubungan dengan sekutu dan mengurangi dampak ekonominya, tanpa benar-benar menghapusnya. Hal ini terlihat dari keputusan Presiden sebelumnya, Joe Biden, yang tetap mempertahankan sebagian besar tarif yang diberlakukan Trump terhadap China, bahkan memperluas cakupannya.

Bloomberg menyebutkan, paket tarif terbaru yang mulai berlaku Jumat lalu, mengenakan bea masuk antara 10% hingga 12,5% pada impor dari sebagian besar mitra dagang. Kebijakan ini didasarkan pada tuduhan pemerintahan Trump bahwa negara-negara tersebut tidak cukup mencegah penggunaan tenaga kerja paksa dalam rantai pasok, tuduhan yang telah dibantah oleh beberapa negara karena dinilai tidak berdasar.

Bloomberg mengutip seorang pejabat Uni Eropa yang mengatakan bahwa kecil kemungkinan tarif-tarif ini akan dihapus dalam waktu dekat. Kembali ke tingkat tarif sebelum era Trump juga dinilai tidak realistis, mengingat Amerika Serikat terus menggunakan tarif sebagai alat kebijakan perdagangan, terlepas dari partai yang berkuasa.

Dalam konteks ini, perkiraan dari Pusat Kebijakan Pajak Amerika Serikat menunjukkan bahwa tarif impor dapat menghasilkan sekitar 1,7 triliun dolar AS untuk kas negara selama sepuluh tahun ke depan, termasuk sekitar 179 miliar dolar AS pada 2026. Namun, pendapatan ini diperkirakan akan menurun secara bertahap seiring berkurangnya ketergantungan pada impor yang dikenai tarif tinggi.

Bloomberg menyoroti bahwa meski tarif ini meningkatkan pendapatan dan mengurangi defisit anggaran dalam jangka pendek, kebijakan tersebut dapat berdampak negatif pada laju pertumbuhan ekonomi. Selain itu, menurut Bloomberg, putaran tarif terbaru hanya akan menutupi kurang dari 60% dari pendapatan yang hilang setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif darurat sebelumnya.

Bloomberg juga menambahkan bahwa Trump terus menyesuaikan beberapa tarif alih-alih mencabutnya, seperti keputusannya untuk memangkas tarif pada beberapa impor aluminium menjadi setengah guna mendorong produksi dan peleburan aluminium di dalam negeri, setelah mengakui masih adanya kekurangan pasokan untuk kebutuhan ekonomi dan sektor pertahanan Amerika Serikat. Kebijakan tarif kini menjadi isu utama dalam kampanye politik menjelang pemilu sela Kongres, di mana Partai Demokrat memanfaatkan isu ini untuk menuduh pemerintahan Trump sebagai penyebab kenaikan harga.

Bloomberg menilai, ketergantungan pemerintah Amerika Serikat terhadap pendapatan dari tarif, serta peranannya sebagai alat utama dalam negosiasi perdagangan, akan menyulitkan pemerintahan mendatang untuk sepenuhnya meninggalkan kebijakan ini, meski tekanan politik dan ekonomi untuk meninjau ulang terus meningkat.

Komentar (0)