Lompat ke konten
Senin, 31 Agustus 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Ekonomi

Pendapatan Suriah Melonjak, Defisit Anggaran Capai Satu Miliar Dolar

Pendapatan anggaran Suriah naik 111% pada paruh pertama 2026 menjadi 2,7 miliar dolar, didorong perbaikan bea cukai dan pemasukan minyak dan gas.

AJEL Indonesia42 mnt lalu · 2 mnt baca
Gedung Kementerian Keuangan Suriah di Damaskus

Poin Utama

AI

Pendapatan anggaran Suriah meningkat dua kali lipat pada paruh pertama 2026, didorong oleh perbaikan penerimaan bea cukai dan mulai mengalirnya pendapatan minyak dan gas ke kas negara. Namun, percepatan belanja menyebabkan keuangan negara mencatat defisit sekitar satu miliar dolar.

Laporan kinerja keuangan yang dirilis Kementerian Keuangan Suriah menunjukkan pendapatan negara mencapai 2,7 miliar dolar selama enam bulan pertama, naik 111% dibanding periode yang sama tahun 2025. Sementara itu, belanja melonjak 331% menjadi 3,7 miliar dolar.

Pendapatan yang terealisasi setara 31% dari target anggaran tahunan, sedangkan belanja yang sudah dijalankan mencapai 35% dari total yang dianggarkan.

Penerimaan bea cukai menjadi sumber pendapatan terbesar dengan 1,08 miliar dolar atau 40% dari total, diikuti hasil investasi negara 763 juta dolar, pendapatan minyak dan gas 601 juta dolar, serta pajak dan retribusi sebesar 252 juta dolar.

Kementerian Keuangan Suriah memperkirakan momentum ini akan berlanjut pada paruh kedua tahun ini seiring bertambahnya pemasukan dari sektor minyak dan sumber-sumber tambahan lainnya.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan Agustus memperkirakan pendapatan Suriah akan terus meningkat sepanjang 2026, didukung kenaikan penerimaan pajak, bea cukai, serta pendapatan minyak dan gas, selain sumber-sumber khusus seperti biaya lisensi telekomunikasi dan transit bahan bakar.

IMF menekankan pentingnya kelanjutan kebijakan fiskal yang sehat dan penguatan mobilisasi pendapatan, terutama di tengah tekanan inflasi dan naiknya harga impor.

Kenaikan Belanja dan Defisit Anggaran

Belanja negara tahunan melonjak 331% menjadi 3,7 miliar dolar, didorong kenaikan gaji, belanja rutin, serta tekanan akibat ketegangan regional dan naiknya harga impor.

Gaji, upah, dan tunjangan menyerap 1,34 miliar dolar dari total belanja, diikuti belanja administrasi 1,03 miliar dolar, belanja investasi 1,02 miliar dolar, dan belanja subsidi serta jaminan sosial sebesar 315 juta dolar.

Anggaran mencatat defisit 1,005 miliar dolar pada paruh pertama, setara 56% dari total defisit yang diperkirakan untuk setahun penuh.

Kementerian Keuangan menjelaskan defisit ini dibiayai melalui pinjaman investasi jangka pendek yang akan dilunasi dalam satu tahun.

Proyeksi Pertumbuhan dan Perubahan Ekonomi

Pemerintah Suriah memperkirakan ekonomi akan tumbuh lebih dari 11% sepanjang 2026, didorong perbaikan produksi pertanian, minyak dan gas, ketersediaan listrik, pertumbuhan perdagangan dan jasa, serta kembalinya para pengungsi.

Proyeksi ini sejalan dengan perkiraan IMF yang memprediksi pertumbuhan di atas 10% meski tekanan inflasi masih berlanjut.

Dalam perkembangan ekonomi lainnya, Amerika Serikat secara resmi mencabut status Suriah sebagai negara sponsor terorisme dan menghapus Hayat Tahrir al-Sham dari daftar sanksi AS. Langkah ini dinilai otoritas Suriah sebagai tonggak bersejarah yang akan memudahkan integrasi negara ke sistem keuangan global serta mendukung masuknya investasi dan teknologi.

Komentar (0)