Harga Minyak Tembus Level Tertinggi dalam Tiga Pekan
Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam tiga pekan pada Kamis, dipicu kekhawatiran ketegangan di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasokan.
Poin Utama
AIHarga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam tiga pekan pada Kamis, didorong kekhawatiran berlanjutnya ketegangan terkait perang Iran dan dampaknya terhadap pasokan dari Timur Tengah.
Pada pukul 12.04 GMT, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Oktober naik 2,80 dolar AS atau 3,1% menjadi 94,42 dolar AS per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September naik 2,84 dolar menjadi 88,67 dolar AS per barel, dan kontrak WTI Oktober yang paling aktif diperdagangkan naik 2,87 dolar atau 3,4% menjadi 87,26 dolar AS.
Kedua jenis minyak tersebut mencatat level tertinggi sejak 24 Juli selama sesi perdagangan, dan membukukan kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut. Kontrak WTI pengiriman September akan berakhir pada Kamis ini.
Giovanni Staunovo, analis di UBS, menjelaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan lebih lanjut pada pasokan. Ia menambahkan, penurunan ekspor minyak dari kawasan tersebut turut menambah tekanan di pasar minyak.
Sementara itu, keputusan Uni Emirat Arab untuk menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut kembali menyoroti hubungan tegang kedua negara. Hiroyuki Kikukawa, kepala analis di Nissan Securities Investment, menyatakan harga minyak tetap tinggi didukung serangan sporadis di Timur Tengah, meski belum ada eskalasi besar yang memicu momentum baru. Ia memperkirakan pasar akan tetap bergerak naik secara bertahap di tengah ketidakpastian terkait pembicaraan perdamaian dan gangguan yang melibatkan UEA, Oman, dan Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa menegaskan tidak ada pembicaraan dengan Iran dan Selat Hormuz tetap terbuka, sementara Iran menyatakan jalur perairan itu masih ditutup. Trump pada Rabu memperingatkan akan ada konsekuensi ekonomi bagi negara mana pun yang memberikan "jalur hidup bagi Iran".
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada Rabu tidak berubah dibanding hari sebelumnya, seiring negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih buntu. Sebelum perang pecah pada 28 Februari, pengiriman melalui jalur tersebut mencapai sekitar seperlima konsumsi global, namun kini alirannya menurun drastis.
Perang juga berdampak pada pasokan bahan bakar olahan, menyebabkan penurunan stok akibat berkurangnya minyak mentah yang tersedia untuk kilang. Badan Informasi Energi Amerika Serikat pada Rabu melaporkan stok hasil distilasi di AS, termasuk solar dan minyak pemanas, turun untuk pekan ketiga berturut-turut, sementara stok minyak mentah naik 4,4 juta barel.
