Lompat ke konten
Sabtu, 5 September 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Arab Saudi

Pengamatan Permukaan Bulan di Fase Kuartal Akhir Ungkap Sejarah Geologis di Rafha

Pengamatan permukaan Bulan di fase kuartal akhir dari langit Rafha menampilkan fitur geologis yang merekam perkembangan awal tata surya.

AJEL Indonesia1 jam lalu · 2 mnt baca
Permukaan Bulan diamati dari Rafha fase kuartal akhir

Poin Utama

AI

Langit Kabupaten Rafha di wilayah Perbatasan Utara, kemarin, menjadi saksi pengamatan astronomi terhadap permukaan Bulan pada fase kuartal akhir. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi para penggemar astronomi untuk menyaksikan fitur utama permukaan Bulan, seperti kawah tumbukan, dataran tinggi, dan dataran rendah gelap, yang merupakan catatan alami penting tentang sejarah geologi Bulan dan perkembangan awal tata surya.

Anggota Perhimpunan Afaaq untuk Ilmu Astronomi, Barjas Al-Falih, menjelaskan bahwa pengamatan tersebut menampilkan berbagai detail permukaan Bulan, termasuk kawah tumbukan, dataran tinggi, dan area gelap. Ia menambahkan, kejelasan fitur-fitur ini dipengaruhi oleh fase Bulan, waktu pengamatan, kejernihan cuaca, serta peralatan astronomi yang digunakan.

Al-Falih menambahkan, permukaan Bulan pada dasarnya terbentuk akibat tumbukan meteorit besar dan aktivitas vulkanik purba. Jejak proses-proses ini masih sangat terjaga karena minimnya proses erosi di permukaan Bulan dibandingkan dengan Bumi. Hal ini menjadikan studi tentang permukaan Bulan sebagai sumber penting untuk memahami sejarah geologinya.

Kawah Tumbukan dan Lautan Bulan

Kawah tumbukan merupakan fitur paling umum di permukaan Bulan, terbentuk dari tabrakan asteroid, meteorit, dan komet selama miliaran tahun. Ukuran dan bentuknya beragam, beberapa di antaranya memperlihatkan material dari lapisan lebih dalam kerak Bulan, serta memberikan petunjuk tentang karakter tumbukan yang membentuk permukaan Bulan.

Al-Falih menjelaskan, kawah Bulan tampak lebih jelas saat Bulan mendekati fase kuartal, karena bayangan yang memanjang di tepi dan lerengnya menonjolkan detailnya lebih baik dibandingkan saat purnama, ketika bayangan berkurang dan kontras antar permukaan menurun.

Lautan Bulan juga menonjol, yaitu area luas berwarna gelap yang bukan berupa lautan air, melainkan dataran vulkanik yang terbentuk ketika aliran lava basalt menutupi cekungan dan dataran rendah hasil tumbukan besar. Wilayah ini berwarna lebih gelap dibandingkan dataran tinggi Bulan yang lebih terang, terkait dengan perbedaan komposisi mineral dan usia geologi permukaan Bulan.

Rangkaian Pegunungan dan Dataran Tinggi Menjulang

Permukaan Bulan juga memperlihatkan rangkaian pegunungan dan dataran tinggi yang asal-usulnya berbeda dengan pegunungan di Bumi. Banyak di antaranya terbentuk akibat tumbukan raksasa yang menciptakan cekungan luas, di mana kekuatan tumbukan dan pemantulan permukaan Bulan membentuk tepian tinggi dan kompleks di sekitarnya.

Anggota Perhimpunan Afaaq untuk Ilmu Astronomi menegaskan, pengamatan Bulan tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga menjadi cara sederhana untuk mempelajari sejarah geologinya. Ia menjelaskan, perubahan cahaya dan bayangan di permukaan Bulan membantu membedakan kawah, pegunungan, dan dataran vulkanik, serta berperan dalam menyebarkan pengetahuan astronomi di masyarakat.

Studi terhadap fitur-fitur ini memungkinkan ilmuwan merekonstruksi tahapan penting dalam sejarah geologi Bulan, memahami karakter tumbukan dan aktivitas vulkanik yang pernah terjadi, serta memanfaatkannya untuk menentukan lokasi pendaratan dan eksplorasi dalam misi Bulan di masa depan.

Komentar (0)