Lompat ke konten
Jumat, 31 Juli 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Dunia

Italia Hentikan Sementara Perjanjian Schengen dengan Spanyol

Italia menangguhkan sementara perjanjian Schengen dengan Spanyol akibat krisis migran ilegal yang terjadi di Ceuta.

AJEL Indonesia1 jam lalu · 2 mnt baca
Pasukan keamanan Spanyol di perbatasan Ceuta

Poin Utama

AI

Italia mengumumkan penangguhan sementara perjanjian Schengen dengan Spanyol, menyusul krisis migran ilegal yang terjadi kemarin di Ceuta, seperti dilaporkan saluran Al Arabiya.

Sebelumnya, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyerukan agar keanggotaan Spanyol di kawasan Schengen ditangguhkan setelah ratusan migran ilegal masuk ke wilayah tersebut. Melalui platform X, ia menegaskan pemerintahnya tengah bersiap mengambil langkah luar biasa, termasuk menangguhkan perjanjian Schengen dengan Spanyol.

Meloni menyebut gambar para migran yang tiba di Ceuta sebagai "mengejutkan", dan menyoroti banyak di antara mereka, termasuk anak-anak, terpaksa berenang untuk mencapai kota itu.

Ia menambahkan, keputusan pemerintah Spanyol memberikan kewarganegaraan Spanyol, dan dengan demikian kewarganegaraan Eropa, kepada lebih dari 500 ribu migran ilegal merupakan "kesalahan besar" yang dinilainya mendorong praktik perdagangan manusia.

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Italia sekaligus pemimpin Partai Liga sayap kanan Matteo Salvini juga menyerukan penangguhan perjanjian Schengen dan memperkuat pertahanan perbatasan Eropa.

Menurut laporan harian Spanyol AS, Finlandia turut mendukung permintaan Italia untuk mengecualikan Spanyol dari kawasan Schengen terkait krisis di Ceuta.

Spanyol telah mengambil langkah keamanan dan militer untuk mengatasi krisis migrasi di Ceuta, setelah gelombang penyeberangan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya memaksa otoritas setempat mengerahkan unit militer guna mendukung aparat keamanan. Krisis ini juga berdampak pada sejumlah negara Uni Eropa, di tengah perdebatan yang semakin memanas mengenai masa depan perjanjian Schengen.

Menurut perkiraan Kementerian Dalam Negeri Spanyol, sekitar 49 ribu migran masuk ke Ceuta dalam waktu 24 jam, menjadikannya salah satu gelombang penyeberangan terbesar yang pernah dialami kota di utara Maroko tersebut, yang merupakan salah satu titik lintas darat utama antara Afrika dan Uni Eropa.

Pihak berwenang Spanyol menjelaskan bahwa pengerahan militer bertujuan mendukung polisi dan Garda Sipil setelah jumlah pendatang melebihi kapasitas penanganan aparat lokal, sembari menegaskan bahwa penegakan hukum tetap menjadi tanggung jawab aparat keamanan, seperti dilaporkan Associated Press.

Selain langkah keamanan, Madrid juga meningkatkan koordinasi dengan Maroko untuk membatasi arus migran, mengingat wilayah Maroko merupakan titik awal utama menuju Ceuta, yang bersama Melilla menjadi dua pintu masuk darat utama antara Uni Eropa dan Afrika.

Korban Jiwa dan Tekanan Kemanusiaan

Gelombang penyeberangan ini juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam upaya mencapai kota tersebut. Laporan internasional menyebut sedikitnya 18 migran tewas, termasuk akibat tenggelam dan terinjak-injak saat mencoba melintasi perbatasan, sementara otoritas setempat menghadapi tekanan besar akibat lonjakan jumlah migran, menurut Associated Press.

Jumlah kedatangan yang sangat besar juga menimbulkan tantangan terkait kapasitas pusat penerimaan dalam menampung para migran dalam waktu singkat.

Komentar (0)