Lompat ke konten
Jumat, 28 Agustus 2026 · Riyadh
العربيةEnglishBuletinKontak
Arab Saudi

Oryx Arab Jadi Contoh Sukses Arab Saudi dalam Restorasi Satwa Terancam

Arab Saudi berhasil memulihkan populasi oryx Arab yang sebelumnya punah di alam liar, menjadikan pengalamannya sebagai model internasional dalam pelestarian satwa.

AJEL Indonesia1 hari lalu · 2 mnt baca
oryx Arab di padang pasir Arab Saudi

Poin Utama

AI

Selama empat dekade terakhir, Arab Saudi telah menempuh perjalanan sukses dalam memulihkan populasi oryx Arab dan mengembalikannya ke habitat aslinya, setelah spesies ini punah di alam liar pada 1970-an. Keberhasilan nasional ini didokumentasikan oleh platform internasional PANORAMA untuk pertukaran solusi konservasi alam, yang menyoroti upaya Pusat Nasional Pengembangan Satwa Liar dalam program penangkaran, reintroduksi, perlindungan habitat, serta pemantauan dan pengelolaan pasca pelepasliaran.

Pada 2011, terjadi titik balik dalam status oryx Arab secara global, ketika statusnya di Daftar Merah IUCN berubah dari "terancam punah" menjadi "rentan". Oryx Arab menjadi spesies pertama yang sebelumnya dinyatakan punah di alam liar namun berhasil mengalami perbaikan status berkat upaya Pusat Nasional dan para mitra.

Populasi Liar Bertambah

Arab Saudi terus meningkatkan jumlah oryx Arab di alam liar. Data Pusat Nasional Pengembangan Satwa Liar tahun 2026 menunjukkan terdapat sekitar 3.064 individu di 11 lokasi, dengan jumlah kawanan yang terus bertambah. Ini mencerminkan perjalanan nasional yang dimulai dari penyelamatan spesies hingga membangun populasi liar yang mampu berkembang biak dan bertahan.

Oryx Arab merupakan simbol gurun Arab dan unsur penting bagi kesehatan ekosistem gurun, berperan dalam penyebaran benih, memangkas pepohonan, dan mendukung pertumbuhan vegetasi. Keberhasilannya mendorong stabilitas spesies dan ekosistem lainnya.

Pendekatan Ilmiah dan Kolaborasi

Upaya internasional menyelamatkan oryx Arab bermula pada 1960-an, saat IUCN meluncurkan Operasi Oryx bekerja sama dengan WWF. Arab Saudi turut berpartisipasi, lalu membentuk program nasional terpadu sejak 1986. Program reintroduksi dimulai di Cagar Alam Imam Saud bin Abdulaziz pada 1989, kemudian meluas ke kawasan lindung lain seperti Aruq Bani Ma'arid.

Pendekatan Saudi didasarkan pada penilaian kelayakan habitat, pemilihan hewan pendiri berdasarkan kesehatan, genetika, dan perilaku, serta melibatkan masyarakat lokal untuk memastikan kawanan yang sehat dan berkelanjutan.

Dukungan untuk Visi Saudi 2030

Restorasi oryx Arab semakin dipercepat dengan peluncuran Visi Saudi 2030 dan inisiatif Saudi Green, yang menargetkan perlindungan 30% wilayah darat dan laut, pengembangan ekosistem, serta pembentukan Pasukan Khusus Keamanan Lingkungan, sehingga upaya konservasi menjadi sistem yang terintegrasi.

Program penangkaran membantu membangun populasi baru, kawasan lindung menyediakan habitat yang sesuai, dan pemantauan berkelanjutan memungkinkan pemahaman pergerakan satwa serta deteksi dini risiko. Proses restorasi pun berkembang menjadi sistem pengelolaan spesies yang terintegrasi di alam liar.

Keahlian Nasional dan Keberlanjutan Lingkungan

Dampak program pemulihan oryx Arab melampaui spesies itu sendiri, berkontribusi pada pengembangan keahlian nasional di bidang penangkaran, pengelolaan kawasan lindung, perawatan hewan, riset terapan, dan peningkatan kapasitas teknis, menuju masa depan keanekaragaman hayati yang lebih berkelanjutan di Arab Saudi.

Komentar (0)